Posisi Indonesia pada Fenomena Flying Geese
Kesuksesan Tax Amnesty membuka pintu masuk bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi di Indonesia. Faktanya yang terjadi saat ini adalah jumlah dana yang masuk ke Indonesia dari tax amnesty sebesar 3600 triliun rupiah, di mana jumlah yang ditargetkan adalah sebesar 12.000 triliun rupiah. Hal itu dikemukakan oleh Tony Prasetiantono dalam Conference & Expo Indonesia Knwoledge Forum V, yang berlangsung tanggal 6-7 Oktober 2016 di Ritz Carlton Pacific Place Hotel, Jakarta.
Masalah yang terjadi pada Indonesia saat ini terjadi karena Indonesia terlalu bergantung pada komoditas dan kurangnya diversifikasi.Untuk itu dengan adanya tax amnesty, maka diharapkan pemerintah dapat "memanggil uang untuk pulang kembali ke Indonesia". Karena selama ini dana tax amnesty berpusat di Singapore, mengingat Singapore menerapkan tax split yang rendah, sehingga orang berlomba-lomba menaruh uang di sana.
Di tengah kondisi krisis dunia, yang disebabkan turunya harga minyak, Indonesia tetap optimis bisa membuat nilai rupiah menguat. Dalam dunia ekonomi dikenal istilah flying geese, yang menyebutkan bahwa tidak ada negara yang sustain terus-menerus. Sebagai contoh produksi sepatu Nike yang saat ini tidak ada yang buatan Amerika, tetapi tersebar di seluruh dunia, untuk menekan biaya produksi.
Saat ini angsa terbang dari China ke Vietnam, karena upah buruh di China meningkat dan pembangunan infrastruktur di China mulai jenuh. Para investor pun berlomba untuk berivestasi dan membangun industri di Vietnam. Sedangkan Indonesia masih berada pada third tier, sehingga Indonesia masih punya peluang untuk lebih baik lagi, mengingat industri rokok Sampoerna di Indonesia sangat likuid. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram berikut.
Posisi rupiah yang menguat (dengan kurs yang kredibel, jika terlalu mahal, maka ekspor tidak akan jalan) dapat mendukung daya saing di masa depan.

Komentar
Posting Komentar